Camping Ground Tikus Emas

Penyerapan Aspirasi MPR RI di Pangkalpinang Soroti Kerusakan Lingkungan dan Krisis Air di Bangka Belitung

19, June 2026 - 10:38 AM
Reporter : adithan
Kegiatan Penyerapan Aspirasi MPR RI di Pangkalpinang membahas degradasi hutan, abrasi pantai, kerusakan mangrove, dan krisis air di Bangka Belitung bersama Senator Zuhri M. Syazali dan Rektor UMB Babel Fadillah Sabri.
Kegiatan Penyerapan Aspirasi MPR RI di Pangkalpinang membahas degradasi hutan, abrasi pantai, kerusakan mangrove, dan krisis air di Bangka Belitung bersama Senator Zuhri M. Syazali dan Rektor UMB Babel Fadillah Sabri.

PANGKALPINANG, BANGKATERKINI – Isu kerusakan lingkungan dan keberlanjutan pembangunan menjadi sorotan utama dalam kegiatan Penyerapan Aspirasi Masyarakat untuk MPR RI bertema "Pembangunan Nasional Berwawasan Lingkungan" yang digelar di Museum Ishadi Pangkalpinang, Jumat (19/6/2026). Kegiatan ini menghadirkan Anggota MPR RI/DPD RI Dapil Bangka Belitung, Ustadz H. Zuhri M. Syazali, Lc., M.A, dengan moderator Ahmadi Sofyan (Atok Kulop) yang juga merupakan Anggota Dewan Penasehat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.


Dalam forum yang dihadiri berbagai elemen masyarakat, akademisi, tokoh agama, dan pemuda tersebut, Rektor Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, Dr. Fadillah Sabri, S.T., M.Eng, mengungkapkan sejumlah persoalan lingkungan yang saat ini dihadapi Bangka Belitung. Menurutnya, degradasi hutan dan ancaman terhadap keanekaragaman hayati semakin nyata dan membutuhkan perhatian serius dari seluruh pihak.


"Kalau kita melihat kondisi saat ini, terjadi degradasi hutan dan ancaman terhadap keanekaragaman hayati. Dulu banyak kawasan yang masih terjaga, sekarang kondisinya sudah kritis. Ini menjadi alarm bagi kita semua," ujar Fadillah Sabri.


Ia juga menyoroti meningkatnya kerentanan wilayah pesisir akibat aktivitas pertambangan yang menyebabkan perubahan pola sedimentasi. Dampaknya, sejumlah kawasan pantai di Bangka Belitung mengalami abrasi yang cukup serius.


"Kerentanan pesisir semakin tinggi. Pantai-pantai kita mengalami abrasi karena transformasi sedimen yang dipengaruhi aktivitas pertambangan. Ini bukan persoalan kecil karena menyangkut keberlanjutan wilayah pesisir kita," katanya.


Selain itu, Fadillah menjelaskan bahwa kerusakan ekosistem mangrove masih menjadi tantangan besar. Meskipun banyak pihak melakukan penanaman mangrove, namun di sisi lain masih terjadi aktivitas yang menyebabkan kerusakan kawasan tersebut. Ia juga mengungkapkan hasil pendataan yang menunjukkan terdapat lebih dari 12 ribu kolong bekas tambang di Bangka Belitung dan jumlahnya diyakini terus bertambah hingga saat ini.


"Faktanya, ketika kami melakukan pendataan terdapat lebih dari 12 ribu kolong. Saat ini kemungkinan jumlahnya sudah bertambah. Banyaknya kolong berdampak pada berkurangnya kawasan hutan dan membuat sejumlah wilayah masuk kategori kritis," jelasnya.


Menurut Fadillah, dampak aktivitas pertambangan juga terlihat pada kualitas Daerah Aliran Sungai (DAS) Rangkui yang mengalami penurunan. Bahkan tidak hanya kualitas air yang terdampak, tetapi juga kuantitas ketersediaan air bersih di Bangka Belitung.


"DAS Rangkui sekarang kualitas airnya sudah menurun. Rantai persoalan ini tidak terlepas dari aktivitas pertambangan. Bahkan bukan hanya kualitas air yang menurun, kuantitas air di Bangka Belitung juga semakin berkurang. Ini menjadi persoalan yang harus segera ditangani secara serius," tegasnya.


Sementara itu, Senator DPD RI sekaligus Anggota MPR RI, Ustadz H. Zuhri M. Syazali, mengatakan forum penyerapan aspirasi tersebut menghasilkan banyak masukan penting yang akan menjadi catatan dalam upaya mendorong kebijakan pembangunan berkelanjutan di Bangka Belitung.


"Sharing dan penyerapan aspirasi hari ini menghasilkan banyak poin penting, khususnya terkait persoalan lingkungan di Bangka Belitung. Namun ide-ide besar ini akan sia-sia apabila tidak dilanjutkan dengan komitmen dan tindakan nyata. Di situlah tantangan kita bersama," ujarnya.


Zuhri menegaskan bahwa berbagai gagasan yang muncul dalam forum tersebut harus diwujudkan melalui langkah konkret. Menurutnya, konsep ekologi politik, ekologi pendidikan, dan pengembangan ekonomi hijau atau green economy harus terus disosialisasikan kepada masyarakat serta menjadi bagian dari agenda pembangunan daerah ke depan.


"Kita harus berani mewujudkan ide-ide ini. Masukan hari ini adalah investasi untuk masa depan. Green economy tidak memiliki batas, sehingga edukasi kepada masyarakat harus terus dilakukan secara masif. Yang paling penting, hasil pertemuan ini harus ditindaklanjuti agar tidak berhenti sebagai diskusi semata," pungkasnya.


Dengan dimoderatori Ahmadi Sofyan, kegiatan berlangsung interaktif dan menghasilkan berbagai rekomendasi strategis yang diharapkan dapat menjadi masukan bagi MPR RI dalam merumuskan kebijakan pembangunan nasional yang lebih berwawasan lingkungan serta berkelanjutan bagi generasi mendatang.


Iklan Bangka Terkini