Camping Ground Tikus Emas

Bangkit Dari 'Luka Politik' Harwendro Targetkan Indonesia Jadi Penentu Harga Timah Dunia

12, March 2026 - 02:29 AM
Reporter : adithan
Komisaris Utama Mitra Stania Prima, Harwendo Adityo Dewanto saat buka puasa bersama Anak Yatim dan media di Pangkalpinang, Rabu 11/03/2026.
Komisaris Utama Mitra Stania Prima, Harwendo Adityo Dewanto saat buka puasa bersama Anak Yatim dan media di Pangkalpinang, Rabu 11/03/2026.

PANGKALPINANG, BANGKA TERKINI– Ketua Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI) sekaligus Komisaris Utama PT Mitra Stania Prima (MSP), Harwendo Adityo Dewanto, menyampaikan ambisi besar agar Indonesia mampu menjadi penentu harga timah dunia. Hal itu ia sampaikan dalam acara buka puasa bersama puluhan awak media dan anak yatim di Aston Emidary Hotel, Rabu (11/3/2026).


Dalam kesempatan tersebut, Harwendo menyinggung derasnya narasi negatif yang belakangan membayangi sektor pertimahan nasional. Menurutnya, setiap informasi yang muncul dari Bangka Belitung tidak hanya menjadi konsumsi lokal, tetapi juga dipantau oleh pasar global.


Ia menyebut berbagai pemberitaan terkait timah bahkan terdengar hingga ke bursa logam internasional seperti London Metal Exchange dan Shanghai Futures Exchange. Kondisi tersebut, kata dia, memiliki dampak positif maupun negatif terhadap persepsi pasar dunia terhadap industri timah Indonesia.


Harwendo juga menanggapi isu besar yang sempat mengguncang sektor timah dan sering dikaitkan dengan angka Rp271 triliun. Ia membantah tudingan monopoli yang sempat menyeret nama perusahaannya. Menurutnya, pada masa krisis tersebut dirinya justru berupaya menjaga stabilitas industri timah agar tidak mengalami kolaps.


Ia mengaku sempat mengumpulkan sejumlah pemilik smelter di luar negeri, khususnya di Singapura, untuk mencari jalan keluar atas gejolak yang terjadi di sektor tersebut. Langkah itu diambil dengan tujuan menjaga keberlangsungan ekonomi daerah yang selama ini bergantung pada industri timah.


Menurut Harwendo, dampak gejolak sektor timah sempat membuat pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung turun hingga sekitar 0,77 persen, menjadi salah satu yang terendah di Indonesia. Namun setelah aktivitas smelter kembali berjalan, kondisi ekonomi daerah perlahan pulih dengan pertumbuhan yang bergerak di kisaran 5 hingga 6 persen.


Ia juga mengakui sempat mengalami kekecewaan setelah hasil kontestasi politik yang diikutinya sebagai calon legislatif tidak sesuai harapan. Meski demikian, Harwendo memilih tetap bertahan di Bangka Belitung dan melanjutkan aktivitas usahanya di sektor pertimahan.


Menurutnya, dukungan dari para karyawan menjadi salah satu faktor yang membuat dirinya kembali bangkit. Saat industri sedang dilanda ketidakpastian dan sejumlah pengurus perusahaan diperiksa aparat penegak hukum, para pekerja tetap menyatakan kepercayaan penuh terhadap kepemimpinannya.


Ke depan, Harwendo menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi price maker atau penentu harga timah dunia. Pasalnya, Indonesia merupakan salah satu eksportir timah terbesar di dunia, namun selama ini harga masih banyak dipengaruhi oleh bursa internasional.


Ia optimistis dalam satu hingga dua tahun mendatang Indonesia bisa memiliki posisi lebih kuat dalam menentukan harga timah global. Menurutnya, dibandingkan komoditas lain seperti nikel yang membutuhkan investasi sangat besar, timah justru memiliki peluang yang lebih realistis untuk menjadikan Indonesia sebagai pengendali harga pasar dunia.